Yogyakarta, 3 Desember 2018
Malam ini, Jogja diguyur hujan. Seperti malam malam
sebelumnya
Dingin, namun menenangkan. Yang ada hanya bunyi gemericik
air dan tawa rendah penghuni asrama
Ingatanku kembali terputar pada Minggu sore kemarin
Aku suka saat duduk di motor bersamamu, tertawa,
membicarakan apapun dari hal penting hingga hal konyol
Aku suka saat jadi penunjuk arah dalam setiap perjalanan
kita
Kamu akan kesal jika aku salah menunjuk kapan harus belok
kanan, kiri, lurus dan lain lain
Jika aku boleh memilih, aku akan lebih suka mengitari kota
ini denganmu ditemani dinginnya malam dan kerlip lampu yang mengerling di
setiap perjalanan kita
Aku suka saat kamu mengusap pelan kepalaku, memegang
pundakku saat berjalan di keramaian
Saat kamu memainkan gelang dipergelangan tanganku,
menurunkan kacamataku saat aku sibuk dengan handphone ku
Entah mengapa tiap sentuhan dan perlakuanmu membuat ribuan
kupu-kupu beterbangan di perutku
Hei, apa yang kamu lakukan? Sihir apa yang kamu gunakan
hingga buatku begini?
Namun selalu saja ada hal yang kemudian membuatku kembali
menjejak bumi setelah banyaknya angan-angan yang melambungkanku ke angkasa
Aku ingat tiap kali kamu menyebutkan namanya
Saat tidak sengaja aku melihat pesan singkat yang
beralamatkan namanya
Saat itu juga aku menyadari jika yang kamu lakukan tidak
berarti apa-apa
Karena selalu namanya yang memenuhi tiap rongga kosong dalam
dirimu dan aku hanyalah seorang pendengar setia dari segala gundah gulanamu
Tapi baginya, bukan namamu yang mengisi kekosongan dalam
dirinya
Sudah ada seorang yang bukan kamu sebagai pelipur dan
penggenapnya
Tidak bisakah kamu berhenti? Aku tidak ingin kamu semakin
dan terlalu terluka
Carilah bahagiamu sendiri yang memang selayaknya kamu
bahagiakan
Begitu juga denganku yang harus mulai menata hati agar tidak
terlalu hancur saat tau semuanya
Tentang aku yang menaruh rasa padamu
Tentang kamu yang menaruh padanya
Tentang aku yang berusaha merelakan
Tentang kamu yang berusaha menerima
Tidak ada komentar:
Posting Komentar