Hai. Ini aku. Masih ingatkah kamu?
Baru saja kemarin kita menghabiskan roti bakar
berdua
Ditemani malam yang lumayan dingin
Dan film yang sepakat kita putar untuk kita tonton
Ingin rasanya aku mencurangi waktu. Berharap
momen-momen bersamamu tidak cepat berlalu.
Aku tidak perlu menceritakan sudah berapa banyak
cerita yang kita buat, tempat yang kita datangi, dan obrolan-obrolan tak
penting yang kita bicarakan.
Aku tak ingin ada orang lain yang tau selain kita,
Allah dan alam semesta.
Bolehkah sekarang aku bertanya?
Apakah kamu memang sengaja memberi jarak?
Apakah kamu menjaga perasaan orang yang sedang kau
perjuangkan itu?
Rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri.
Berani beraninya aku mejatuhkan hati pada tuan yang
sudah berpuan
Aku sangat merekam jelas bagaimana sedihnya kamu
saat pesanmu tak dibalas oleh sang puan.
Aku sangat merekam jelas bagaimana pertemuan kalian
di lorong asrama malam itu.
Aku sangat dan masih merekam jelas bagaimana kamu
saat bercerita menaruh hati padanya dan mulai mencari tau tentangnya.
Kamu sungguh terlihat bahagia. Kamu terlihat seperti
mendapat semangat baru yang sebelumnya tak kamu dapatkan dari kekasihmu yang
telah pergi.
Aku hanya ingin luka hatimu sembuh. Itu kan yang aku
sarankan?
Aku hanya ingin kamu bisa melupakan masa lalumu
perlahan dan kemudian mulai menata cerita dengan puanmu. Itu juga yang aku
sarankan.
Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu
tersenyum setiap hari karena kisahmu yang sekarang.
Tapi apakah dengan menjaga jarak seperti ini?
Maksudku, tidak ada cara lain kah?
Baiklah, aku mengerti.
Jadi, kita berakhir disini kah?
Oh maksudku, aku dan kamu. Karena tak pernah
benar-benar ada kita.
Kejarlah bahagiamu. Bahagiakan sang puan yang kamu
dambakan.
Aku lega akhirnya kamu dapat memilih. Bukan lagi
seorang Tuan dengan banyaknya pilihan.
Karena memang aku tidak pernah menjadi bagian dari
pilihan.
Aku hanya lah tempatmu berkeluh kesah, bukan
tujuanmu untuk pulang.
Jadi, selamat tinggal. Semoga berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar