Sabtu, 22 Desember 2018

(Arsip) 2


Belum genap 24 jam selang terakhir kali kita bertemu sebelum aku dan kamu kembali ke kota masing-masing. Namun aku sudah rindu.
Aku memang payah perihal untuk tidak memikirkanmu pun merindukanmu.
Seolah-olah kamu dan rindu memiliki keterikatan yang entah sejak kapan begitu kuat.
Terimakasih untuk waktu yang sudah kamu berikan Sabtu lalu.
Sarapan bubur di pinggir jalan, menemaniku ke stasiun, membeli headset, kemudian pergi ke swalayan bersama dan pulangnya mampir membeli es kelapa muda di saat hari sedang terik-teriknya.
Aku selalu suka setiap perjalanan yang kita lalui bersama di atas motor, kemudian kamu akan bertanya arah mana yang harus dituju, kamu mengeluh tentang lamanya lampu merah di Jalan Diponegoro.
Kemudian aku menyandarkan daguku di pundakmu. Kegiatan rutin yang selalu aku lakukan ketika menunggu lampu merah diatas motor bersamamu. Membicarakan banyak hal hingga saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Kemudian kamu meletakkan tanganmu di kakiku dan saat lampu hijau kamu akan melajukan motormu.
Mengapa aku selalu ingat setiap detail peristiwa saat aku bersamamu ya? Aku pun juga heran. Aku merasa itu berharga dan aku tidak ingin lupa. Aku tidak ingin semuanya berubah. Tetap begitu seterusnya hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.
Namun tadi pagi aku kembali disadarkan oleh alam semesta tentang kehadirannya di hidupmu. Perempuan yang sempat kamu ceritakan padaku, yang entah sejak kapan mampu membuatmu jatuh berkali-kali. Padahal mungkin kamu berusaha keras untuk tak menyukainya karena kamu tau, dia tak pernah melihatmu.
Seperti aku yang tak pernah terlihat olehmu. Betul kan?
Walaupun begitu, aku bisa melihat senyum yang berbeda setiap kali kamu mengucap namanya. Seakan-akan kamu seperti menemukan sesuatu yang berharga dan sudah ditunggu-tunggu kehadirannya. Beruntung sekali dia. Aku juga ingin!
Sebagai teman yang sejak awal membersamaimu, aku hanya bisa berdoa yang terbaik bagimu. Jika memang bukan dia orangnya, semoga kamu lekas disadarkan sesegera mungkin sebelum berlarut-larut. Dan semoga kamu mulai bisa lebih peka dan sadar terhadap orang-orang di sekitarmu.
Dari kotaku Yogyakarta, ku sampaikan aku rindu padamu. Selamat berlibur. Selamat bertemu dengan keluarga dan teman-temanmu. Sampai bertemu tanggal 2 Januari yaa J





Jumat, 07 Desember 2018

(Arsip) 1



Yogyakarta, 3 Desember 2018
Malam ini, Jogja diguyur hujan. Seperti malam malam sebelumnya
Dingin, namun menenangkan. Yang ada hanya bunyi gemericik air dan tawa rendah penghuni asrama
Ingatanku kembali terputar pada Minggu sore kemarin
Aku suka saat duduk di motor bersamamu, tertawa, membicarakan apapun dari hal penting hingga hal konyol
Aku suka saat jadi penunjuk arah dalam setiap perjalanan kita
Kamu akan kesal jika aku salah menunjuk kapan harus belok kanan, kiri, lurus dan lain lain
Jika aku boleh memilih, aku akan lebih suka mengitari kota ini denganmu ditemani dinginnya malam dan kerlip lampu yang mengerling di setiap perjalanan kita
Aku suka saat kamu mengusap pelan kepalaku, memegang pundakku saat berjalan di keramaian
Saat kamu memainkan gelang dipergelangan tanganku, menurunkan kacamataku saat aku sibuk dengan handphone ku
Entah mengapa tiap sentuhan dan perlakuanmu membuat ribuan kupu-kupu beterbangan di perutku
Hei, apa yang kamu lakukan? Sihir apa yang kamu gunakan hingga buatku begini?
Namun selalu saja ada hal yang kemudian membuatku kembali menjejak bumi setelah banyaknya angan-angan yang melambungkanku ke angkasa
Aku ingat tiap kali kamu menyebutkan namanya
Saat tidak sengaja aku melihat pesan singkat yang beralamatkan namanya
Saat itu juga aku menyadari jika yang kamu lakukan tidak berarti apa-apa
Karena selalu namanya yang memenuhi tiap rongga kosong dalam dirimu dan aku hanyalah seorang pendengar setia dari segala gundah gulanamu
Tapi baginya, bukan namamu yang mengisi kekosongan dalam dirinya
Sudah ada seorang yang bukan kamu sebagai pelipur dan penggenapnya
Tidak bisakah kamu berhenti? Aku tidak ingin kamu semakin dan terlalu terluka
Carilah bahagiamu sendiri yang memang selayaknya kamu bahagiakan
Begitu juga denganku yang harus mulai menata hati agar tidak terlalu hancur saat tau semuanya
Tentang aku yang menaruh rasa padamu
Tentang kamu yang menaruh padanya
Tentang aku yang berusaha merelakan
Tentang kamu yang berusaha menerima

Minggu, 25 November 2018

Berbahagialah



Hai. Ini aku. Masih ingatkah kamu?
Baru saja kemarin kita menghabiskan roti bakar berdua
Ditemani malam yang lumayan dingin
Dan film yang sepakat kita putar untuk kita tonton
Ingin rasanya aku mencurangi waktu. Berharap momen-momen bersamamu tidak cepat berlalu.
Aku tidak perlu menceritakan sudah berapa banyak cerita yang kita buat, tempat yang kita datangi, dan obrolan-obrolan tak penting yang kita bicarakan.
Aku tak ingin ada orang lain yang tau selain kita, Allah dan alam semesta.
Bolehkah sekarang aku bertanya?
Apakah kamu memang sengaja memberi jarak?
Apakah kamu menjaga perasaan orang yang sedang kau perjuangkan itu?
Rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri.
Berani beraninya aku mejatuhkan hati pada tuan yang sudah berpuan
Aku sangat merekam jelas bagaimana sedihnya kamu saat pesanmu tak dibalas oleh sang puan.
Aku sangat merekam jelas bagaimana pertemuan kalian di lorong asrama malam itu.
Aku sangat dan masih merekam jelas bagaimana kamu saat bercerita menaruh hati padanya dan mulai mencari tau tentangnya.
Kamu sungguh terlihat bahagia. Kamu terlihat seperti mendapat semangat baru yang sebelumnya tak kamu dapatkan dari kekasihmu yang telah pergi.
Aku hanya ingin luka hatimu sembuh. Itu kan yang aku sarankan?
Aku hanya ingin kamu bisa melupakan masa lalumu perlahan dan kemudian mulai menata cerita dengan puanmu. Itu juga yang aku sarankan.
Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu tersenyum setiap hari karena kisahmu yang sekarang.
Tapi apakah dengan menjaga jarak seperti ini?
Maksudku, tidak ada cara lain kah?
Baiklah, aku mengerti.
Jadi, kita berakhir disini kah?
Oh maksudku, aku dan kamu. Karena tak pernah benar-benar ada kita.
Kejarlah bahagiamu. Bahagiakan sang puan yang kamu dambakan.
Aku lega akhirnya kamu dapat memilih. Bukan lagi seorang Tuan dengan banyaknya pilihan.
Karena memang aku tidak pernah menjadi bagian dari pilihan.
Aku hanya lah tempatmu berkeluh kesah, bukan tujuanmu untuk pulang.
Jadi, selamat tinggal. Semoga berbahagia.